Catatan Yan Asmi
Catatan Yan Asmi
Oleh Hendy Hermawan*
Siapa tak kenal Yan Asmi, diam-diam telah mengubah persepsi kita tentangnya. Dari sosok ‘bodor’ alias penuh jenaka menjadi sosok yang begitu serius dalam menyikapi penataan ruang juga beberapa aspek lingkungan.
Tanpa kita sadari, semenjak tahun 80-an ia merintis sebuah lembaga swadaya masyarakat dalam bentuk sebuah Yayasan kemasyarakatan yang diberi nama Yayasan Pepeling. Menurutnya, ini adalah sebuah usaha dalam mengurangi kerusakan alam dan lingkungan yang semakin terkalahkan oleh proses pembangunan yang tidak berpihak pada alam. “Atawa sebagai pengingat jauhnya bisa menegur bahkan menyadarkan para pembuat kebijakan supaya sadar potensi alamnya akan mati,” katanya tegas.
Ketika ditanya kaitannya dengan profesi sebagai pelawak, ia hanya menjawab bahwa status aktivisnya hanya sebatas ekstrakuler saja alias sampingan, tak mempengaruhi perkerjaan utamanya, yaitu membuat orang tertawa. “Seperti seorang karyawan yang di rumahnya buka warung makanan atau warung telepon,” katanya.
Menurutnya, terbentuknya yayasan ini adalah sebuah usaha ‘pemberontakan’ pemikiran, ide yang membangun kepada pemerintah. “Masalahnya, ada beberapa ruang yang tidak terakomodir, atau terlepas dari jangkauan beliau-beliau alias pejabat, karena LSM selebihnya itu hanya faktor pupujieun,” katanya. Ia menjelaskan LSM itu mesti membiayai dirinya sendiri, untuk organisasinya, untuk sosialisasi dan sebaginya, dari mana uangnya. “Maka uyuhan bisa bertahan,” katanya.**
Pagi itu penulis berkesempatan bersilaturahmi dengan Yan Asmi, di sela-sela jeda istirahat seminar tentang kehutanan beberapa waktu yang lalu, ia memaparkan beberapa catatan. “Yang jelas sebelum kita mengatakan apa-apa, Pertama yang tertangkap oleh saya selaku masyarakat biasa, satu bahwa seluruh program dan perencanaan pemerintah berkaitan dengan khususnya penataan ruang, pengentasan kemiskinan, semua bagus. Kedua, apakah di setiap siposium, seminar, pelatihan atau lokakarya apapun namanya, apa yang disepakati sekarang, apakah jelas aplikasinya? Apabila jelas, apakah bisa konsisten akan komitnennya?” katanya.
Yan menjelaskan, bagaimana beranggapan demikian. Ia mengatakan bahwa dari setiap pelaturan yang berlaku memberikan sebuah kesadaran pada masyarakat bahwa keterlibatan stakeholders dalam pembangunan infrastruktur dan penataan ruang sudah tampak geliatnya. Namun menurutnya semua itu akan berakhir pada mempertanyakan kekonsistenan dari komitmen yang telah terbentuk. “Semua itu tidak pernah lepas dari sebuah analogi, ketika seorang leader sedang gandrung bola, maka ia akan habis-habisan menikmati bola, atau ketika ia senang akan kesenian degung, maka bebeakan ia membeli berbagai instrumen degung dan main tak henti-henti, tapi setelah itu mereka bosan dan meninggalkan kesia-siaan,”katanya.
Ia menilai bahwa pejabat publik itu bukan seperti politikus. “Mereka hidup dengan jargon-jargon, ah sabodo teuing pernyataannya yang kemarin itu dipakai lagi, atau nu penting mah asup heula,”katanya. Yan melanjutkan bahwa ia pun memahami kekonsistennan ini berbanding lurus dengan style seorang leader. Bagaimana ia mengejawantahkan semua kesepakatan yang telah di sepakati bersama, dengan dasar pemikiran bahwa keinginan itu majemuk tidak satu. “Tidak mungkin melihat kekosistenan itu dengan sempurna, minimal seorang leader itu dapat mengakomodir keinginan yang ada,”katanya.
Ketika ditanyai tentang pendapatnya tentang pendekatan kebudayaan apa yang paling memungkinkan tepat dalam sosialisasi program pemerintah, ia hanya mengatakan pandai-pandailah dalam memilah dan milih. “Jangan menolak lah, kalau kebudayaan dari luar itu ada yang bagus, lalu kita kemas dan didesign sedemikian rupa, kita tidak boleh menutup diri dan tetap yang paling susah itu ketika dikaitkan dengan aplikasi dan bagaimana stylenya,” katanya.
Berbicara tentang penataan ruang pun tidak akan terlepas dari bagaimana ia menilai akan lingkungannya. Salah satu ‘pentolan’ D’Bodors mengatakan hal ini pun berpangkal pada bagaimana kondisi orang perorangnya, bagaimana ia bisa memahami berbagai persentasi jumlah kemiskinan di Jawa Barat, bagaimana ia bisa memahami pentingnya energi alternatif sebagai solusi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). “Karena setiap aplikasi dan penerangan itu mesti jelas bagi masyarakat dan aplicable,” katanya.
Catatan ketiga, ia tujukan kepada Tarkim sebagai wadah yang mepresentasikan kota dan kabupaten. Pertama, dalam sosialisasi ini para penunggu Tarkim jangan petot-petot artinya terus menerus, karena harus selalu disadari, kita berlomba dengan pengrusakan dan kita selalu kalah beberapa langkah dengannya. Kedua, mengukur setiap permasalah dan keberhasilannya dalam ukuran yang jelas dan seperti apa. Ketiga, para pelaksananya, sering kali kita mengdengar dalam setiap pemilihan ada perkataan “saya ada di sini karena amanah”, nah, kita terangkan pada mereka bahwa memegang amanah itu seperti tadi. Jangan seperti orang papaehan, merendahkan diri untuk meningkatkan mutu, apa adanya saja dan berfikir maju serta bersikap terbuka. Keempat, masyarakat akan selalu bisa diajak berkerja sama, tapi syaratnya jangan pernah putus cara meraihnya. Sisanya Lahaula walaquata illabillah,” katanya. ***
* Penulis adalah Pecinta Lingkungan, bertempat tinggal di Jl. Caringin Elok II No. 27A Bandung 40273. e-mail: abuhaidar_sayyaf@yahoo.com.
About this entry
You’re currently reading “Catatan Yan Asmi,” an entry on Kahfi Center
- Published:
- 8 August 2008 / 3:51 am
- Category:
- Mikir
- Tags:
2 Comments
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]